2017/03/25

Mitos atau Fakta?


Sebagai manusia yang lahir entah ke berapa kali ke dunia gue yakin pasti semua orang bersinggungan dengan yang namanya mitos. Di beberapa orang dan tempat hal-hal yang berbau mitos masih dipercaya dan dianggap benar. Namun di beberapa lainnya merasa mitos bukanlah suatu kebenaran yang harus dipercayai di anggap kuno atau bahkan musyrik (yang berbau agama). 

Beberapa minggu lalu gue kecelakaan (ceritanya pernah gue tulis disini). Sakitnya gak terlalu parah karena masih bisa jalan dan gak masuk rumah sakit. Tapi namanya bersentuhan dengan kulit mengelupas dan dengkul itu rasanya sungguh luar biasa. Kita gak bisa do something as usual misalnya aja jongkok. Selama seminggu gue gak jongkok sama sekali. Boro-boro jongkok sekedar nekukin kaki aja gak bisa. Karena ya itu tadi kulit di lutut gue sobek kena aspal and as you know kalau robek di dengkul gerak dikit aja lukanya bisa gak kering-kering *ih kalau inget ngilu kaki harus terlentang 7 x 24 jam*.


Selain kisruh masalah gak bisa jongkok hal yang terpenting juga tentang proses penyembuhan. Kulit robek itu ternyata sensitif. Apalagi gak diperban sama sekali. Ketakutan akan bakteri atau virus yang bisa menyebabkan penyakit tetanus itu selalu muncul setiap hari *Widiw bahasa gue ya :)*. 

Luka-luka gue akibat kecelakaan gak diperban sama sekali karena menurut ibu dan bapak kalau diperban keringnya lama. Biarlah bersentuhan dengan udara terbuka asal rutin ngebersihinnya *Ya tiap dibetadine gue kumat nangisnya*


Selain penyembuhan dari luar ternyata ada juga penyembuhan dari dalam. Dan iya itu tentang makanan!! Soal makanan ini cukup menggelitik *geli dong degelitikin*. Karena ibu dan simbahku mewanti-wanti gue untuk tidak makan sembarangan. Tetangga-tetangga gue pun juga nyaranin hal yang sama. Mereka koor kalau gue gak boleh makan ayam, telur, daging, sayur tewel (read: nangka muda), kecambah, kol, bung (read sayur bambu), dan masih banyak lagi *bayangkan gue harus makan apa. hiks*. 


Alasan mereka macem-macem. Kalau makan daging dan sayur tewel gue bisa gatel-gatel. Kalau makan kecambah sama kol luka gue bisa tambah perih, kalau makan apa gitu gue lupa katanya bakal keluar nanahnya. O iya kalau makan ikan laut luka gue bisa membekas. Bisa diambil konklusi ya kalau selama seminggu gue cuman bisa makan tahu dan tempe plus sayur hijau *ih akika gak mau lagi deh*. 

Merana dong ya hidup eike. Gue itu kan termasuk golongan pemakan segala macam makanan. Daging gue suka ikan laut gue cinta kecambah kol dan sebangsanya mulut gue gak pernah nolak. Eeee tiba-tiba ibuku nyuruh gue stop makan semua itu. 

Apakah gue murka???????????


NO I AM NOT. INDEED. 

Gue bener-bener gak murka sama sekali. Malahan gue terkesan ngiyemin aja apa kata ibuku *ya meskipun dikit-dikit gue grundel si hihihi, maap ya bu*. Kok bisa gue gak murka???? Padahal ni ya secara logika gue anak gaul modern. Ngenet hampir tiap hari, social media dibuka terus tanpa kenal lelah, alhamdulilah gue juga gak bego-bego amat masalah vitamin, protein dan sebagainya. Tapi kenapa gue bisa ngiyemin aja!!!! Dan asal tahu aja gue juga googling makanan apa saja untuk penyembuhan luka. Beberapa sumber di internet bahkan website (yang katanya) dokter itu menyarankan untuk makan makanan berprotein tinggi which is daging, ikan, telur dan sebangsanya dong *Bertolak belakang banget kan sama mitosnya ibu gue*.


Jadi begini.... gue memang ngalamin sendiri mitos-mitos soal itu. Gue jatuh di siang bolong ya dimana perut gue itu serasa diplintir kelaperan. Sesampainya di rumah (dan setelah ngebetadine sendiri lukanya) gue grasak grusuk nyari makan. Dan yang ada di meja waktu itu bakwan. Tanpa pikir panjang ya gue embat lah ya ada kali dua tiga biji masuk ke mulut. Gak lama ni luka gue kayak gimana itu. Sengkring-sengkring (read: perih) gak jelas. Curhat ke ibu eeee ternyata sakit begituan gak boleh makan kecambah dan kol *yes, bakwan insist of kecambah dan kol*. Sebenarnya gue juga bingung antara itu perihnya tambah parah atau perihnya perih penyebuhan. Soalnya ya itu tadi dibeberapa web yang gue baca makanan itu malah dianjurkan *nah pusing kan lo*

Di hari selanjutnya juga begitu. Ibuku masak ayam gongso yang endes bambang gulindang. Wanginya aja harum apalagi kalau dimakan. Gue ya sok-sokan udah lah gak papa makan begitu. Gak ada yang ngelarang juga. Eeeee sabda ibuku ternyata bener abis itu luka gue gatal-gatal. Ya masih sama dengan diatas gue juga masih bingung antara yes to the myth or no.


Tapi dari kejadian-kejadian itu gue nyimpulin sendiri si mitos-mitos yang beredar. Kalau sebenarnya mitos itu gak 100 persen salah dan sebaliknya. Mitos itu kan terkait dengan hal-hal yang menjadi kebiasaan manusia. Sesuai paragraf awal bahwa kita itu tidak hidup pertama kali tapi berkali-kali. Dan gue menyakini dalam perjalanan waktu luka yang gue alami mungkin dizaman kapan sudah ada dan berkali-kali. Manusia-manusia juga pastinya mencoba mencari solusi gak mungkin lah mereka diem aja nungguin wangsit dedemit. Juga ni mereka pasti mengalami trial and error terus hingga ditemukan lah sesuatu yang dianggap benar walaupun tanpa bukti yang kuat.  Dari omongan sana sini sana sini pada akhirnya ya menjadi kepercayaan dong ya. 

Terkait dengan mitos apalagi berbau kesehatan jangan lupa nyinggung soal penelitian dan ilmiah. Kalau gue si yakin-yakin aja tentang penelitian-penelitian para ahli itu. Karena gue yakin kalau penelitian itu juga pake rumus dan bisa dipertanggung jawabkan. Tapi gini ya penelitian itu kan sifatnya diperbarui terus menerus secara continue. Atau mungkin juga malah antara peneliti A dan B hasilnya berbeda walaupun dengan metode dan permasalahan yang sama. Semisal si A meneliti makanan X dengan hasil yang bla bla bla bla. Dia bilang ini sudah jelas akurat tajam dan terpercaya *macem liputan aja*. Kemudian ada si B meneliti hal yang sama persis tapi berbeda hasilnya dengan si A. Penelitian si B juga sama akuratnya dengan si A. Mana yang lebih relevan?????/ Setahue gue si biayasanya yang terkahir yang menjadi acuan *setahu gue dong yes*. Sedangkan namanya mitos itu terjadi  gak cuman sehari dua hari. Prosesnya gue yakin lamaaa sekali bisa bertahun-tahun , berabad-abad or even more.


Jadi sebagai manusia awam gak perlu lah mengebiri mitos-mitos yang beredar di masyarakat dengan alasan A, B, C, D. Kita juga gak pelu lah musti langsung percaya dengan penelitan si X si Y atau lainnya. Mungkin saja ni suatu saat nanti mitos-mitos yang beredar itu ada penelitiannya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah pake rumus dan kode-kode itu.


Lalu apakah gue menomor wahidkan mitos?? Ya kagak. Selama itu masih bisa gue logika or at least gue ngalamin sendiri ya gue bakal meyakini itu. Dan apakah gue menyebar itu? Ya iya gue sebar pengalaman gue. Tapi,,,,,, kalau memaksa orang untuk percaya dengan dalil dan dalil ya gak dong. Mau percaya siilahkan mau kagak gak masalah asalkan kita masih bisa hidup berdampingan begityu...................... *prok prok prok*



Quote : 
Kebeneran yang hakiki itu hanya milik Tuhan karena Dialah sang Pencipta dari segala galanya

(The ultimate truth is belong to God cause God is the Creator of  everything)

Kita sering melupakan yang dulu karena kita ingin mejadi kekinian. Meskipun yang dulu itu tak selalu salah

Roda kehidupan selalu berputar karena berhenti itulah kematian

Tidak ada komentar :

Posting Komentar