2017/03/25

PENERAPAN MODEL TIPE THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV DI SD 1 PIJI



BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Salah satu tujuan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdapat pada Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke IV adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan kecerdasan kehidupan suatu bangsa akan mendorong suatu negara menjadi lebih maju dan meningkatkan nilai-nilai kehidupan serta pembinaan kehidupan yang lebih sempurna. Mencerdaskan kehidupan bangsa ini berhubungan erat dengan pendidikan. Karena dengan pendidikan diharapkan mampu membuka wawasan dan pengetahuan serta cara pandang suatu bangsa dalam proses pembangunan nasional untuk mencapai kemakmuran suatu negara. Sebagaimana Ki Hajar Dewantara (dalam Gandhi, 2011:64) “Pendidikan adalah upaya menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai masyarakat mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya”. Selanjutnya, Gandhi (2011:64) menyatakan sebagai berikut.

Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan terencana (bertahap) dalam meningkatkan potensi diri peserta didik dalam segala aspeknya menuju terbentuknya kepribadian dan akhlak mulia dengan menggunakan media dan metode yang tepat guna melaksanakan tugas hidupnya sehingga dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya.

Pada dasarnya, pendidikan merupakan serangkaian peristiwa yang melibatkan beberapa komponen penting, diantaranya: tujuan pendidikan, peserta didik, pendidik, isi atau bahan, cara atau metode, dan situasi atau lingkungan. Sesuai yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III pasal 4 ayat 6 menyebutkan sebagai berikut.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Trianto, 2011:1).

Pencapaian dari tujuan pendidikan nasional yang telah disebutkan tentunya tidak mudah, peran serta para pelaku elemen pendidikan sangatlah berpengaruh terhadap keberhasilan mutu pendidikan itu sendiri. Bahwasanya, guru sebagai salah satu pelaku elemen pendidikan mempunyai andil besar dalam tercapainya tujuan pendidikan nasional. Bukan hanya sebatas menuangkan sejumlah bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas melainkan usaha yang disengaja untuk membimbing dan membina siswa agar menjadi manusia yang sesuai dengan harapan bangsa. Untuk itulah guru diharapkan mampun mengembangkan pengajaran yang lebih inovatif dan keratif agar dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran terlebih dalam mata pelajaran matematika .
Ibrahim dan Suparni (2012:35) menyatakan Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Departemen Pendidikan Nasional menyatakan sebagai berikut.
Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Sehingga mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama (2006:416).

Mata pelajaran matematika yang diajarkan di sekolah terlebih lagi pada sekolah dasar dijarkan dengan frekuensi jam pelajaran yang lebih banyak dibanding dengan mata pelajaran lainnya. Akan tetapi banyak siswa yang merasa kurang mampu dalam mempelajari matematika karena dianggap sulit sehingga minat untuk mempelajari kembali matematika di luar sekolah menjadi kurang. Hal inilah yang menyebabkan kemampuan belajar matematika masih tergolong rendah.
Dibuktikan dengan hasil prestasi siswa Indonesia oleh TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) tahun 1999, 2003, 2007, dan 2011 pada 8th Grade atau kelas 8. Prestasi matematika Indonesia masih menunjukkan skor yang rendah. Skor rata-rata negara Indonesia masih jauh dari skor rata-rata negara yang menjadi International Benchmarking. Di kalangan Internasional peringkat yang didapatkan Indonesia adalah 34 (1999), 35 (2003), 37 (2007), dan 38 (2011).
Rendahnya hasil belajar siswa tentunya disebabkan oleh berbagai faktor. Menurut Djamarah faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain.
Faktor internal (dalam diri siswa) dan faktor eksternal (luar diri siswa). Adapun faktor internal antara lain: minat, motivasi, kemampuan dasar, dan kemampuan kognitif. Faktor eksternal meliputi tenaga pendidik, metode pembelajaran atau model pembelajaran yang dipakai oleh guru dalam mengajar, kurikulum, sarana prasarana dan lingkungan. Hasil belajar dapat menggambarkan pembelajaran tersebut berhasil atau tidak (2008:175).

Faktor internal yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa salah satunya adalah kurangnya perhatian siswa terhadap guru pada saat guru menjelaskan tentang suatu materi. Siswa merasa bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dan membosankan sehigga siswa kurang termotivasi untuk belajar. Kemudian, kurangnya kemampuan siswa dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru juga menjadi penyebab rendahnya motivasi belajar siswa dan akan berdampak pada hasil belajar matematika siswa.
Faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah model atau metode atau cara pembelajaran yang digunakan oleh guru. Pada dasarnya model pembelajaran yang kurang efektif menyebabkan tidak seimbangnya kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik, misalnya pembelajaran yang sifatnya ceramah konvensional akan menjadikan siswa tidak bisa mengeluarkan kemampuan lain yang ada pada dirinya sehingga siswa kurang termotivasi, bosan ataupun jenuh dalam pembelajaran. Model pembelajaran yang sering digunakan oleh guru pada pembelajaran matematika adalah model ceramah konvensional yang menuntut siswa untuk mendengar materi yang dijelaskan oleh guru sehingga siswa cenderung pasif dan kurang dilibatkan dalam pembelajaran Ketidaktepatan penggunaan model pembelajaran matematika dapat menghambat pencapaian kemampuan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika.
Hal inilah yang terjadi pada siswa kelas IV SD 1 Piji Dawe Kudus. Hasil wawancara peneliti dengan guru kelas IV SD 1 Piji pada tanggal 23 Januari 2014 menunjukkan bahwa pembelajaran matematika yang dilakukan oleh guru kurang optimal. Guru sering kali menggunakan model pembelajaran klasikal yang bersifat ceramah secara terus menurus atau yang sering dikatakan ceramah konvesional. Model pembelajaran yang diterapkan guru dalam pembelajaran mata pelajaran matematika kurang efektif dan beragam sehingga menyebabkan siswa merasa jenuh dengan mata pelajaran matematika Terlebih siswa yang notabene kurang suka dengan materi maupun mata pelajaran matematika itu sendiri. Selain itu, model pembelajaran ceramah secara terus menerus menjadikan pemahaman siswa dalam menemukan konsep dasar cenderung kurang. Sehingga keaktifan siswa dalam pembelajaran sangat kurang karena guru yang mendominasi pembelajaran.
Peneliti mengkaji lebih lanjut permasalahan tersebut, peneliti menemukan keterkaitan permasalahan tersebut dengan hasil belajar siswa. Didasarkan pada observasi yang dilakukan tanggal 23 Januari 2014 nilai rata-rata matematika sebagian besar siswa belum memenuhi KKM. Dalam hal ini KKM yang dipakai oleh SD 1 Piji Dawe Kudus mata pelajaran matematika adalah 75. Nilai ulangan akhir semester 1 mata pelajaran matematika tahun ajaran 2013/2014 siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM sekitar 73.33% dari 30 siswa di kelas IV SD ini.
Hasil wawancara dengan beberapa siswa kelas IV SD 1 Piji pada tanggal 23 Januari 2014 juga menunjukkan bahwa mata pelajaran matematika dianggap sulit dan membosankan. Model pembelajaran ceramah konvensional yang dilakukan guru membuat siswa merasa jenuh terhadap materi sampai ke mata pelajaran yang diajarkan. Siswa menjadi pasif terhadap pembelajaran yang berlangsung. Lebih jauh mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi rendah.
Salah satu materi yang sulit untuk dimengerti adalah materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Padahal seyogyanya, pecahan merupakan salah satu pokok bahasan dalam matematika yang implementasinya sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak kejadian yang melibatkan materi pecahan, namun tidak jarang dari siswa malah mengalami kesulitan dalam menyelesaikannya. Hal ini terlihat dari kurang terampilnya siswa dalam berhitung penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan. Apalagi ketika bilangan pecahan tersebut memiliki penyebut yang berbeda. Siswa terlihat kebingungan untuk mengerjakan soal tentang pecahan dengan penyebut yang berbeda. Kebanyakan siswa lupa bahwa mereka harus menyamakan penyebutnya terlebih dahulu agar dapat dilakukan penghitungan terhadap soal pecahan tersebut. Sehingga permasalahan yang mendasar yaitu kurangnya pemahan konsep pada suatu materi yang menjadikan siswa sering lupa dan kebingungan dalam menyelesaikan masalah.
Hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru kelas IV SD 1 Piji pada tanggal 23 Januari 2014 menunjukkan bahwa hampir 15 dari 30 siswa kelas IV kurang paham dengan materi pecahan terlebih dengan pecahan dengan penyebut yang tidak sama. Nilai ulangan siswa yang memperoleh diatas KKM pada materi tersebut juga cenderung sedikit. Kurang dari 20 siswa yang memperoleh nilai diatas KKM dan selebihnya mendapat nilai dibawah KKM. Pada saat pembelajaran yang dilakukan guru siswa terlihat saling tunjuk ketika menjumpai soal yang demikian pada saat guru menyuruh siswa untuk maju menyelesaikan soal ke depan kelas dan kebanyakan siswa masih salah menyelesaikan soal yang demikian.
Proses pemahaman konsep yang kuat akan memudahkan siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan akan tetapi proses tersebut tidak disadari oleh semua siswa. Siswa yang bermotivasi belajar tinggi tentunya akan berusaha untuk belajar memahami materi yang ada sebaliknya dengan siswa yang bermotivasi belajar sedang ataupun kurang. Untuk itu, Masing-masing harus mulai diajak belajar untuk memahami materi untuk menyelesaikan masalah dengan dorongan dari individu lainnya. Sehingga diperlukannya pembelajaran berkelompok dengan tujuan agar semua siswa aktif dalam pembelajaran. Apabila siswa bekerja secara berkelompok, maka upaya yang dilakukan agar dapat diterima dalam kelompoknya yaitu dengan memberikan kontribusi sesuai kemampuan yang dimiliki sehingga siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran. Aktivitas belajar siswa yang rendah menjadikan hasil belajar siswa tergolong rendah begitupun sebaliknya.
Berdasarkan paparan yang telah disebutkan di atas, peneliti perlu menindaklanjuti permasalahan tersebut yang berujung pada tindak pemecahan masalah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah sudut pandang guru bahwa mata pelajaran matematika tidak hanya dapat tersampaikan kepada siswa dengan model pembelajaran ceramah konvensional melainkan dengan model-model pembelajaran lain yang diharapkan meningkatkan kemampuan siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya hasil belajar siswa. 
Peneliti menggunakan salah satu pembelajaran dengan sistem pembelajaran kelompok yakni, “Cooperative Learning” atau Pembelajaran Kooperatif. Menurut Huda (2012:32) Pembelajaran kooperatif mengacu pada metode pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil dan saling membantu dalam belajar. Pembelajaran kooperatif umumnya melibatkan kelompok yang terdiri dari 4 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Pembelajaran kooperatif yang mengharuskan siswa berinteraksi antara siswa satu lainnya akan menjadikan pembelajaran menjadi mudah dan menyenangkan. Tidak hanya itu, pembelajaran yang dilakukan secara kooperatif juga akan meningkat hasil belajar siswa karena siswa dituntut agar lebih dahulu mengetahui materi yang akan dipelajari agar siswa aktif dalam pembelajaran.
Proses pembelajaran kooperatif yang pada umumnya melibatkan beberapa siswa dengan latar belakang yang berbeda untuk bekerja sama seyogyanya menjadikan salah satu siswa akan mendominasi diskusi. Siswa yang tidak berani berpendapat maupun siswa yang cenderung kurang pintar akan tersisih dan cenderung diam dalam berdiskusi dan berakibat pada keaktifan siswa dalam pembelajaran.
Ibrahim menjelaskan alasan akibat dari pembelajaran kooperatif sebagai berikut.
Pembelajaran kooperatif mempunyai efek yang berarti terhadap penerimaan yang luas terhadap keragaman, ras, budaya, dan agama, strata sosial, kemampuan dan ketidakmampuan. Tidak dipungkiri dalam pembelajaran kelompok seyogyanya dapat menjadikan salah seorang siswa dalam kelompok untuk tidak antusias dalam pembelajaran karena didominasi siswa yang lain (dalam Trianto, 2011:60).

 Untuk mengurangi hal tersebut maka diperlukan pembelajaran kooperatif yang dapat lebih menumbuhkan keaktifan siswa dalam pembelajaran tanpa mengurangi substansi dari pembelajaran kooperatif. Masing-masing siswa dituntut mengembangkan pemikirannya dalam memahami konsep dan materi pelajaran matematika. Oleh sebab itu, diperlukan model pembelajaran yang menuntut siswa untuk berpartisipasi penuh dalam diskusi. Siswa yang jarang atau bahkan tidak pernah berbicara di depan kelas dapat mengeluarkan ide atau jawabannya kepada salah seorang teman lainnya. Dengan demikian akan memperkecil kemungkinan siswa yang pintar akan mendominasi jalannya diskusi karena masing-masing siswa dituntut untuk memahami materi yang diajarkan untuk dapat didiskusikan dengan kelompoknya dan dengan teman sekelasnya. Sehingga dalam penelitian ini peneliti menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share.
Arends berpendapat mengenai pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share sebagai berikut.
Think pair share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam think pair share dapat memberi siswa lebih banyak waktu untuk berpikir, untuk merespons dan saling membantu (dalam Trianto, 2011:132).

Penelitian yang dilakukan oleh Juniari, dkk (2013) yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS Terhadap Hasil Belajar Perkalian Dan Pembagian Pecahan Pada Siswa Kelas V SD”. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan hasil belajar perkalian dan pembagian pecahan pada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional (t hitung = 2,116 > t tabel = 1,67). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TPS berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar perkalian dan pembagian pecahan pada siswa kelas V SDN Gugus 5 Puhu Gianyar Tahun Pelajaran 2012/2013.
Mengingat betapa pentingnya mata pelajaran matematika bagi kehidupan masyarakat maupun bagi berkembangnya ilmu pengetahuan dengan mempertimbangkan tujuan dalam jangka pendek maupun jangka panjang, diperlukan adanya suatu model maupun pendekatan pembelajaran yang diharapkan nantinya dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika sebagai mata pelajaran yang menyenangkan dan menantang serta tidak membosankan. Oleh karena itu perlu pengemasan model dan pendekatan pembelajaran yang menarik sehingga siswa lebih aktif belajar dan mendapat pengalaman langsung dari proses belajarnya yang akhirnya dapat mempengaruhi hasil belajar siswa itu sendiri.
Dari permasalahan yang telah dijelaskan di atas maka peneliti akan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul “Penerapan Model Think Pair Share untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV di SD 1 Piji”.
1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
1.             Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di SD 1 Piji kelas IV tahun ajaran 2013/2014?
2.              Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan akivitas belajar matematika siswa materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di SD 1 Piji kelas IV tahun ajaran 2013/2014?
3.             Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan keterampilan guru dalam mengeloa pembelajaran matematika materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di SD 1 Piji kelas IV tahun ajaran 2013/2014?
1.3         Tujuan Penelitian
Setelah memahami pemaparan tentang permasalahan di atas dan poin-poin pada rumusan masalah, maka tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di SD 1 Piji kelas IV tahun ajaran 2013/2014.
2.      Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di SD 1 Piji kelas IV tahun ajaran 2013/2014.
3.      Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat  meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran matematika materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di SD 1 Piji kelas IV tahun ajaran 2013/2014.
1.4         Kegunaan Penelitian
1.4.1   Kegunaan Teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di SD 1 Piji kelas IV tahun ajaran 2013/2014.


1.4.2   Kegunaan Praktis
1.4.2.1       Bagi Siswa
1)        Menumbuhkan motivasi belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran matematika
2)        Meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika.
1.4.2.2       Bagi Guru
1)             Menambah kualitas pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
2)             Mempermudah guru dalam mengembangkan kompetensi yang dimiliki siswa, baik kognitif, afektif, dan psikomotorik.
3)             Guru termotivasi untuk menciptakan situasi pembelajaran yang lebih menyenangkan.
1.4.2.3       Bagi Sekolah
1)             Memberikan perkembangan demi perbaikan proses pembelajaran.
2)             Terciptanya suasana kelas yang kondusif, efektif serta menyenangkan sehingga suasana lebih nyaman dalam belajar.
1.4.2.4       Bagi Peneliti
1)      Peneliti dapat menganalisa dan mengembangkan praktek pembelajaran Matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share.
2)      Peneliti memperoleh pengalaman di lapangan tentang pembelajaran Matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share di sekolah dasar.
1.5    Ruang Lingkup Penelitian
Batasan ruang lingkup penelitian ini sebagai berikut.
1.             Fokus permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu peningkatan hasil belajar siswa.
2.             Penelitian ini menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
3.             Penelitian ditujukan pada siswa kelas IV semester II SD 1 Piji Dawe Kudus tahun ajaran 2013/2014.
4.             Penelitian ini dibatasi pada materi pecahan pada standar kompetensi 6. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah kompetensi dasar 6.3 Menjumlahkan pecahan dan 6.4 mengurangkan pecahan
1.6    Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam melaksanakan kegiatan penelitian ini, maka dapat penulis jelaskan terlebih dahulu istilah-istilah yang terkandung dalam judul peneitian. Pemaparannya yaitu sebagai berikut.
1.6.1   Pembelajaran kooperatif dengan tipe Think Pair Share (TPS) 
Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) digunakan untuk mengembangkan model pembelajaran kooperatif yang diterapkan agar siswa tidak merasa jenuh dengan model-model pembelajaran yang bersifat diskusi. Dalam Think Pair Share (TPS) guru dapat mengajukan pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran dalam kelompok (Think atau Berfikir). Selanjutnya, siswa akan berpikir secara berpasangan dalam mencari jawaban dari pertanyaan guru tersebut sebelum menyatukan jawaban dalam satu kelompok (Pair atau Berpasangan). Terakhir kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelompok lain (Share atau Berbagi).
1.6.2   Hasil belajar Matematika
Hasil belajar merupakan perolehan dari proses tindak belajar siswa yang menunjukkan suatu perubahan tingkah laku baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik yang secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman dari dirinya sendiri dengan lingkungannya. Matematika adalah mata pelajatan yang mengkaji dalam berbagai bidang diantaranya, bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit yang berfungsi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa mendatang. Hasil belajar matematika adalah perolehan dari proses pembelajaran siswa pada mata pelajaran matematika. Dalam penelitian ini peneliti mengkaji bidang teori bilangan yang dikhususkan pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan.
1.6.3   Pecahan
Pecahan adalah bilangan rasional yang tidak utuh yang terbagi menjadi dua bagian yaitu pembilang dan penyebut. Penelitian ini peneliti memfokuskan pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan yang terdapat dalam SK 6 (Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah) dan KD 6.3 (Menjumlahkan pecahan) serta KD 6.4 (Mengurangkan pecahan) di kelas IV Sekolah Dasar.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar